Riau Berkain 2026 Angkat Kebaya Laboh, Dorong Wastra Melayu Tembus Pasar Dunia


Minggu, 8-11-2026


Riau Berkain 2026 Angkat Kebaya Laboh, Dorong Wastra Melayu Tembus Pasar Dunia

PEKANBARU--Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Riau kembali menggelar Riau Berkain 2026 sebagai upaya melestarikan dan memperkenalkan kekayaan wastra Melayu kepada masyarakat luas. Memasuki tahun kelima penyelenggaraannya, kegiatan ini mengangkat kebaya laboh sebagai busana warisan Melayu yang dikembangkan melalui sentuhan desain modern.

Mengusung tema "Kebaya Laboh, Warisan Melayu dalam Karya dan Gaya Masa Kini", Riau Berkain 2026 menghadirkan peragaan busana yang melibatkan pelaku industri fesyen, desainer, dan model. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang untuk mengeksplorasi kekayaan budaya Riau melalui karya kreatif yang memadukan nilai tradisional dengan tren masa kini.

Ketua Panitia Riau Berkain 2026, Shanti Lestari, mengatakan tema tersebut dipilih untuk memperkenalkan kebaya laboh sebagai busana Melayu yang tetap mempertahankan nilai budaya, tetapi mampu mengikuti perkembangan zaman.

"Melalui tema ini, kami ingin mengangkat aspirasi terhadap busana Melayu, sehingga kebaya laboh dapat ditampilkan sebagai busana yang berbudaya, tetapi tetap segar dan elegan. Kami juga berharap desainnya terus bergerak dan berkembang ke depannya," ujar Shanti di Hotel Grand Elite Pekanbaru, Sabtu (7/11/2026).

Ia menjelaskan, Riau Berkain tidak hanya berorientasi pada pelestarian dan pengenalan kebaya laboh. Kegiatan ini juga diarahkan untuk membangun kolaborasi berkelanjutan antara desainer dan model, mengembangkan wastra, serta memperluas pemasaran produk batik dan tenun khas Riau.

Sementara itu, Ketua API BPD Riau, Arningsih, menyampaikan bahwa Riau Berkain telah konsisten diselenggarakan setiap tahun dan kini memasuki tahun kelima.

Ia berharap kegiatan tersebut dapat mendorong masyarakat, khususnya anggota API BPD Riau, untuk semakin mencintai dan menggunakan wastra lokal dalam berbagai kesempatan.

"Riau Berkain sudah memasuki tahun kelima dan selalu kita laksanakan setiap tahunnya. Ke depannya, teman-teman BPD Riau akan selalu menggunakan wastra Riau agar wastra dan budaya kita semakin berkembang," ungkap Arningsih.

Menurutnya, Riau Berkain juga memiliki peran dalam mendorong pemberdayaan perempuan atau empowering women. Melalui kegiatan tersebut, perempuan diharapkan semakin memiliki ruang untuk berkreasi dan berkontribusi dalam pengembangan industri fesyen berbasis budaya lokal.

Arningsih berharap gerakan mencintai wastra daerah terus berkembang sehingga produk tekstil khas Riau semakin dikenal luas dan mampu menjangkau pasar internasional.

Dukungan terhadap pengembangan wastra juga disampaikan Kepala Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Bekasi Kementerian Ketenagakerjaan RI, Yose Rizal. Ia menilai Riau Berkain 2026 menjadi salah satu ruang untuk memperlihatkan potensi wastra dan industri tekstil Riau yang perlu terus dikembangkan melalui inovasi, desain, dan kreativitas.

Menurut Yose, kemajuan industri tekstil tidak semata-mata diukur dari jumlah kain yang diproduksi. Lebih dari itu, produk tekstil juga harus mampu memberikan nilai tambah bagi kebudayaan, meningkatkan produktivitas, serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

"Wastra bukan hanya peninggalan budaya, tetapi juga identitas dan potensi ekonomi yang besar. Warisan budaya harus kita dorong menjadi sumber inovasi, kreativitas, produktivitas, dan ekonomi," tegas Yose.

Ia mengajak seluruh pihak untuk melihat kain bukan sekadar produk fesyen, melainkan juga bagian dari penggerak kebudayaan dan penciptaan lapangan kerja.

Menurutnya, kekayaan tekstil dan wastra yang dimiliki Riau merupakan modal penting untuk membangun ekosistem industri fesyen yang lebih kuat, sekaligus membuka peluang bagi produk lokal untuk bersaing di pasar yang lebih luas.

"Saya mengajak semua untuk melihat kain bukan hanya sebagai produk yang dikenakan, tetapi sebagai roda penggerak budaya dan pencipta lapangan kerja. Jadikan Riau yang tidak hanya kaya akan warisan tekstil, namun juga bisa sebagai pusat pertumbuhan fashion Indonesia, bahkan Asia Tenggara," tuturnya.

Melalui Riau Berkain 2026, pengembangan wastra Melayu diharapkan tidak berhenti pada upaya pelestarian tradisi, tetapi juga mampu mendorong kreativitas, pemberdayaan perempuan, dan pertumbuhan industri fesyen daerah.[rr/mcr]
Penulis Riau Raya
Editor Lukman Hakim
  • BERITA TERKAIT

  • TAG TERKAIT